Kerajaan Simpang (KAL-BAR)

Kerajaan yang didirikan itu dimulai dari kuala Kandang Kerbau dan berpindah ke Sukadana, dari sukadana kemudian dilanjutkan oleh raja Akil dari Siak Indragiri, Kerajaan Tanjungpura tetap berjalan terus dambil berpindah lokasi. Akibat dari perkembangan keturunan, maka Kerajaan Tanjungpura terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh kakak beradik putra Sultan Zainuddin, sehingga Kerajaan Tanjungpura dibagi. Putra mahkota yaitu Pangeran Ratu Agung diberikan wilayah utara dan membangun kota kerajaan baru yang bernama Kerajaan Simpang. Sedangkan Kerajaan Tanjungpura sendiri masih tetap berdiri dengan perubahan nama menjadi Kerajaan Matan yang diperintah oleh Panembahan Busrah dan memindahkan ibukota pemerintahan ke Kerta Mulia.

Kerajaan Simpang didirikan pertama kali oleh Panembahan Ratu Agung pada tahun 1735 dan secara otomatis sebagai raja pertama yang memerintah Kerajaan Simpang adalah Panembahan Ratu Agung. Beliau memerintah sampai dengan tahun 1824 dan pada masa pemerintahan Panembahan Ratu Agung, kerajaan selalu dalam keadaan damai dan aman. Dalam pertumbuhannya kerajaan-kerajaan yang didirikan itu juga mengalami pergantian nama menjadi Matan atau Sukadana tergantung kedudukan raja yang sedang berkuasa saat itu. Pada tahun 1828 Raja Matan yang bernama Sultan Muhammad Kamaluddin diusir oleh pemerintah Belanda karena dianggap melindungi para bajak laut. Sebagai gantinya maka pada tahun 1829 Belanda menetapkan Raja Akil dari Siak Indragiri bergelar Sultan Abdul Jalil Syah berkedudukan di Sukadana yang kemudian berubah nama menjadi Niuew Brusel.[16] Pada masa pemerintahan raja Akil wilayah kekuasaannya hanya terbatas di Sukadana sedangkan Matan dikuasai Pangeran Adimangkurat seorang menantu dari Sultan Matan yang lama dengan memakai gelar Panembahan Anom Kesumanegara. Panembahan itu tidak mengakui pemerintahan Raja Akil. Pada tanggal 24 April1837 pemerintah Belanda memutuskan untuk membuat kontark baru dengan Raja Akil. Dalam kontrak itu dinyatakan bahwa Nieuw Brusel terdiri atas Sukadana dan Simpang sedangkan Matan merupakan kerajaan yang berdiri sendiri. Pada tanggal 21 Juni 1843 Raja Akil meningal dunia. Oleh karena itu Panembahan Matan dan Simpang menuntut hak-hak mereka, sehingga pada tanggal 1 September 1845 Nieuw Brusel dibubarkan. Kemudian Kerajaan Matan, Sukadana, Simpang berada di bawah perintah seorang gezaghebber Belanda dan kedudukan ketiga kerajaan itu terpisah dan membuat kontrak sendiri-sendiri dengan Belanda. (Arsip Nasional Republik Indonesia, 1973 : CI-CII)

Kerajaan Simpang setelah Nieuw Brussel dihapus pada tanggal 1 September 1845, maka Simpang berdiri menjadi kerajaan sendiri dan membuat kontrak sendiri dengan pemerintah Belanda. Kontrak itu dibuat pada tanggal 30 September 1845 yang mengakui sebagai Raja Simpang adalah Gusti Asma dan bergelar Panembahan Kesumaningrat. Pada masa kerajaan dibawah Gusti Panji yang bergelar penembahan Gusti Panji. Kerajaan Simpang Tua didirikan di Kampung Mungguk Jering Kecamatan Simang Hilir. Mengenai kapan didirikan tidak ada sumber yang pasti namun dari informasi bahwa kerajaan Simpang Tua adalah penembahan Gusti Panji.

Kemudian penembahan Gusti Panji diturunkan dari jabatannya sebagai Raja Simpang Tua dan digantikan oleh adiknya Gusti Muhammad Rum menjadi raja mengantikan Panembahan Gusti Panji yang memerintah dari tahun 1917 sampai dengan tahun 1942. Pada masa pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Rum inilah pusat pemerintahan Kerajaan Simpang dipindahkan di Desa Teluk Melano Kecamatan Simpang Hilir. Panembahan Gusti Muhammad Rum berakhir setelah dibawa ke Mandor oleh pemerintah Jepang. Sebagai penganti raja maka diangkatlah adik Gusti Muhammad Rum yang bernama Gusti Mesir untuk memangku jabatan sebagai raja di Kerajaan Simpang Hilir dengan gelar Panembahan dengan masa pemerintahan dari tahun 1942 sampai 1943 . tanggal 23 April 1943 semua raja-raja di Kalimantan Barat ditangkap dan ditahan di markas keibitai. Raja-raja yang ditangkap sejak tanggal 23 April 1943 semua telah dibunuh dan dimakamkan di suatu tempat yang tempat itu dirahasiakan sampai sekarang. Termasuk salah satu raja yang ditangkap dan dibunuh oleh Jepang adalah panembahan Gusti Mesir (Rivai, 1991:57).



PENINGGALAN KERAJAAN SIMPANG

- Wayang Kulit
Wayang kulit menurut menurut salah seorang “dukun” yang bernama Dalang Kunang bahwa wayang kulit pertama kali dikenal masyarakat Simpang sejak berdirinya kerajaan Simpang dan dikatakan bahwa wayang kulit itu berasal dari pulau jawa yang dibawa oleh salah seorang Putera Raja Majapahit yaitu dari perkawinan antara Damarwulan dan Puteri Kencana Ungu yang bernama Brawijaya bersama dengan patihnya Gelagendir (Patih Logender) dan Baggi pada waktu itu merantau ke Kalimantan. Di Kerajaan Simpang biasanya cerita yang dimainkan oleh dalang dalam perkawinan dan keselamatan : Tunggul Ulung, serita dari Kediri seperti Galuh Candra Kirana/Raden Panji. Gandang Purwangi, Buah Teberanang, Kijang Long dan sebagainya (Moelia,1967:11-12). Jenis wayang kulit itu kurang lebih 80 macam kebayakan bentunya masih asli dari tanah jawa.

- Makam-Makam Raja Simpang
Kerajaan Simpang mengalami beberapa kali perpindahan sehinga letak makam para raja ada yang di Kerajaan Simpang Hilir Tua dan Kerajaan di Simpang Hilir berada di Telok Melano.

- Makam Panembahan Gusti Panji
Makam di Kampung Munggu Jering Kecamatan Simpang Hilir, jalur yang digunakan menyelusuri Sungai Simpang dengan memakan waktu satu setengah jam, setelah itu berjalan sekitar 50 meter dan sampailah kepemakaman.

- Makam Panembahan Gusti Makhmud
Makam yang terletak tidak jauh dari terminal Telok Melano lebih kurang 50 meter

- Keraton Simpang Hilir
Keraton SimpangHilir didirikan pada tahun 1921 dan berfungsi sebagai tempat tinggal raja beserta keluarga serta tempat berlangsungnya pertemuan antara raja dengan para pembesar kerajaan namun dalam perkembangannya. Keraton Simpang Hilir mengalami perubahan karena tidak lagi sebagai tempat tinggal raja tetapi berubah fungsi menjadi Kantor Pos.

- Meriam Bujang Koreng
Meriam yang merupakan hadiah dari Raja Bathin Satia Pahlawan dari Kerajan Karimata yang diberikan kepada Raja Simpang yaitu Panembahan Gusti Roem sewaktu akan meninggalkan Karimata dan menuju ke kota pusat Kerajaan Simpang.


Sumber : M.Natsir,Sos.M.Si Informasi Budaya

1 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites